kl ketemu ama keluarga atau terima telp dari keluarga, pertanyaan ini gak pernah ketinggalan, mungkin udah defaultnya kali ya… “kapan nikah? “, May….maybe yes maybe no.. (ala Ringgo). huahhh… knp selalu pertanyaan itu, kayak udah dikejar umur aja.. (kl b.bataknya bilang “tarsosak“) pdhl kan saat ini, usiaku blm sampe 1/4 abad..
aq memang pengen juga seh cepat2 nikah..senang bngt bisa menjaga anak sendiri dan tentunya tiap malam ada yg nemanin aq tidur
tapi gak segampang itulah, menurutku nikah itu harus benar2 dipertimbangkan dan harus benar2 bisa meyakinkan diri bahwa calon kita itu adalah pasangan hidup kita seumur hidup.. dan pada saat kita memutuskan untuk menikah dengannya, tidak akan ada lagi kata Menyesal atau Tidak cocok karena kita sudah diberkati, dan harus bisa hidup bersama selama-lamanya dan berusaha menerima kekurangan masing-masing dan bisa saling intropeksi diri untuk kebaikan bersama.
Menurutku pernikahan itu bukan hanya Aku dan pasanganku, tetapi keluarga aq dan dia, makanya pada saat nikah, kita harus benar2 sudah siap menerima keluarga baru yang selayaknya kita perlakukan seperti keluarga kita sendiri. nah, sudah sanggupkah diriku seperti itu? dan yang paling penting, akankah kudapatkan calon suami yang satu visi&tujuan denganku ttg keluarga?