Dikutip dari blog orang batak yg tetap cinta budaya batak.. Salute for him..
Profile : http://elisa.lumbantoruan.net/?page_id=2 ;
Dalihan Na Tolu tidak saja baik dalam sistem kekerabatan Batak tetapi juga sangat baik diterapkan dalam sistem leadership moderen. Seorang pimpinan yang dapat menerapkan Dalihan Na Tolu dalam kerangka sistem kepemimpinannya akan menjadi pemimpin yang sangat berhasil dan juga sustainable. Dalam konsep kepemimpinan moderen kita mengenal suatu konsep yang disebut dengan 360 Degree Leadership. Dimana seorang pemimpin yang handal, harus dapat mengelola hubungan yang harmonis dengan atasan (pemilik saham/komisaris), teman sejawat (peers), dan bawahan. Hanya saja, hubungan seperti apa yang seharusnya dikembangkan?. Dalam hal inilah, hubungan Dalihan Na Tolu, menjadi sangat efektif dalam memformulasikan 360 Degree Leadership, juga bagaimana kita menempatkan siapa yang menjadi hulahula, boru dan dongan sabutuha. Barangkali dengan padanan Komisaris/pemegang saham adalah hulahula, teman sejawat/peers adalah dongan sabutuha, dan bawahan adalah boru. Dan seorang pemimpin tidak harus seorang pemimpin formal karena struktur. Dengan demikian akan terjadi hubungan yang harmonis diantara pihak-pihak yang terlibat dalam 360 Degree leadership (baca: The 360 Degree Leader : Developing Your Influence from Anywhere in the Organization, John C. Maxwell). Sistem nilai yang ada di Dalihan Na Tolu juga bisa kita terapkan dalam mengembangkan hubungan yang harmonis dengan Customer, Supplier dan Mitra Kerja (Alliances), dimana Customer adalah hulahula, Supplier adalah boru dan Alliances adalah dongan sabutuha dalam kekerabatan Dalihan Na Tolu, dengan melakukan segala konsekuensi dari semua hubungan kekerabatan dalam Dalihan Na Tolu. Jadi, sebenarnya, budaya kita (juga dari suku lainnya, seperti Jawa, Sunda, dll), mengajarkan sistem nilai yang sangat baik dan relevan dengan konsep manajemen dan leadership modern. Lalu….., kenapa kalau sistem nilai ini dibalut dengan warna-warna barat mejadi kelihatannya sangat canggih?. Kesimpulannya, hargailah budaya sendiri, dan galilah hal-hal yang baik dari sana. Nenek Moyang kita sudah berhasil melalui tantangan-tantangan dalam masanya, tentu generasi sekarang juga akan mampu menghadapi tantangan pada zamannya dengan sistem nilai yang sama. Untuk baca yg lainnya, baca disini : http://elisa.lumbantoruan.net/?cat=5
ruben said,
September 5, 2008 at 4:59 am
wah.. aku masih bingung dengan istilah dalian na tolu ini..
kayaknya aku harus lebih belajar lagi… hehe..
Manik said,
September 5, 2008 at 6:40 am
Kalo boleh bertanya…
Prinsip Dalihan Na Tolu ini, masih layak tidak dilaksanakan di jaman skrg?
Devi Cristina Limbong said,
September 5, 2008 at 6:53 am
@ruben,
konsep Dalihan na tolu dalam adat batak adalah somba marhulahula (hula-hula = saudara laki2 dari istrimu atau bisa aja saudara laki2 dari Ibu/Tulang), elek marboru (boru = perempuan semargamu, berarti borumu adalah boru Manik) dan Manat mardongan tubu (dongan tubu = saudara laki2mu, artinya yang Marga Manik).
Somba marhula-hula artinya hormat ke hula-hula tapi bukan berarti jadi gila hormat ya (posisinya kita di bawah, hula-hula di atas)
Elek Marboru artinya mengerti/mengayomi/melindungi/menjaga boru…(posisinya kita di atas, boru di bawah)
Manat Mardongan tubu artinya saling menjaga dan hati-hati supaya tidak terjadi perselisihin karena disini posisi kita sama.
smg membantu menjelaskan yah….:)
Devi Cristina Limbong said,
September 5, 2008 at 7:01 am
@Manik,
seperti dijelaskan di atas, prinsip dalihan na tolu sangat layak dilaksanakan di jaman sekarang..karena dalihan na tolu ini selalu ada dalam kehidupan kita, yaitu selama kita bersosialisasi, selalu ada saatnya kita sbg atasan, bawahan dan posisi yg sama.
Nah, prinsip dalihan na tolu ini sangat bagus, spt di contohkan di postingan di atas,
1. jika kita berhadapan dgn atasan kita di kantor, berarti posisi kita Somba marhula-hula yaitu hormat ke atasan kita (di alkitab juga ada tertulis hormat ke atasan)
2. jika kita berhadapan dgn bawahan kita, berarti posisi kita Elek marboru yaitu mengerti kpd bawahan (tidak semena-mena), mengayomi/melindungi bawahan
3. jika kita berhadapan dgn rekan kerja, berarti posisi kita manat mardongan tubu yaitu saling menjaga perasaan sesama rekan kerja…
hmm…kayaknya Ito ini lagi nge test saya yah…….bukannya Ito udah ahli dalam hal ini??
Manik said,
September 5, 2008 at 8:20 am
Keknya..lebih cocok kalo ketemu utk membahas yg satu ini
Jadi…kapan kita kemana dek?
Devi Cristina Limbong said,
September 5, 2008 at 9:47 am
@Manik,
ketemuan yukkkk……
kony said,
September 30, 2008 at 3:18 pm
hii to boleh knalan nga , to tinggal dimana . klo boleh tau bisnisnya apa mana aq tertarik dengan bisnis yang ito jalankan okkk !!!!!!!!!!!!!! salam kenal sllu thanks gbu